Aku Cemburu

Rasa cemburu bisa datang menghampiri pada siapa saja, aku tau.
Cemburu bisa menyambangi laki-laki ataupun perempuan, baik anak sekolahan atau mungkin anak kuliahan, bahkan sepasang kekasih pun pernah di hampiri oleh perasaan ini.

Cemburu itu gila, dia tidak pandang bulu, tak peduli akan dampak kehadirannya.
Datangnya membawa amarah, rasa perih tersayat-sayat, rasa sakit tak menentu. Akal sehat pun seolah tak berfungsi.
Inilah rasa cemburu, dampak yang begitu dahsyat bisa membuat kehancuran maha dahsyat.

Padahal kecemburuan bukanlah hal yang diinginkan oleh setiap jiwa yang ingin bahagia.
Karena kecemburuan sejatinya menggiring pada kehancuran.

Aku tak tau harus berkata apa, kamu pujaan hatiku, intan manjaku, pendamping impianku ternyata menghancurkan niat baik ku.
Memang kita bukan siapa-siapa, hanya sekedar teman sekelas yang tak begitu akrab, tak banyak komunikasi diantara kita. Hanya bertemu dan menyapa di saat tertentu saja.

Tadi sore kulihat lelaki teman kelas ku bersamamu, seperti nya kalian ingin bermain diluar sana, atau mungkin ngecamp di puncak.
Seketika hatiku runtuh dan hancur.
Kamu sosok yang kukenal baik selama ini, wanita yang menjaga diri dari permainan diluar dan interaksi dengan para lelaki ternyata membuat aku seketika menghapus kesan baik mu dalam diriku.

Ingin rasanya ku menangis, melihat realita di depan mata, ternyata kamu berubah. Kamu tak lagi memiliki ruh keanggunan.
Kamu bukan lagi wanita cantik nan anggun yang membuat banyak bola mata para lelaki menjadi bertanya-tanya akan sosok indah jiwamu.

Harus diakui, semua lelaki di kelas kita atau mungkin di kampus kita bila melihat kamu pasti akan tertambat hatinya oleh keanggunanmu, cantik nya parasmu dan Tutur katamu.
Tapi apa dikata kejadian tadi meluluh lantakkan keyakinan dan kepercayaan ku.

Mungkin ini resiko cinta dari jauh, ia hanya akan menumbuhkan sesak di dada. Tetesan air mata di pipi, kecewa di hati, dan senyum di bibir.

Apa yang harus kulakukan ?
Menangisi keadaan atau bahkan mencoba tegar bagai batu di tepi pantai yang terus diterjang derasnya ombak ?
Sampai saat ini aku tak tau hal apa yang harus ku lakukan, aku hanya berandai-andai dan terus mengingat tingakahmu yg membuat aku terjatuh dan menangis.

Apakah aku tetap bisa mencintai mu ?
Atau mungkin justru membencimu ?
Biarlah waktu menjawab semuanya, Tuhan maha adil dan sebaik-baik penyusun skenario kehidupan.

Komentar

Postingan Populer